Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kunjungan ke Monas dan Museum Gajah.

DOR! Hai, semoga kaget, ya. Tentu saja sebelum kalian meng-klik blogku yang satu ini, kalian sudah membaca judul blog ini. Ya, benar, " Kunjugan ke Monas dan Museum Gajah." Tujuan utama yaitu: Monas ( Monumen Nasional) Okay.

Mission 1: Monumen Nasional.

Aku saranin kalian yang dari BSD berangkat setelah shalat shubuh, biar gak telat saat sampai di Stasiun, jika telat maka kereta yang akan kalian tumpangi kemungkinan besar sudah penuh, jadi please don't be late, soalnya kalau telat bisa berabe urusan.

Aku tidak telat saat sampai di Stasiun Rawa Buntu, soalnya sekitaran 5 menit kereta yang di tunggu sudah tiba, ya jadi semua penumpang yang ingin naik kereta ini, ketika mereka mendengar suara peluit pertanda kereta akan datang, nah suara peluit itu lah yang membuat penumpang berdiri, bersiap untuk masuk dan menyambar tempat duduk yang ada. Sialnya, aku dan keluargaku malah masuk tempat yang banyak ibu-ibu penjual yang tujuannya mungkin ke Tanah Abang, banyak barang jualan ya, gaes. Tetapi seorang satpam datang menyuruh aku, Nukman, dan Ayah untuk pindah gerbong kereta yang sebelahnya lagi, nah ada anak muda yang lagi pada duduk di bangku kereta, dicolek oleh satpam dan disuruh berdiri, untuk apa? Tentu saja untuk aku dan Nukman duduk😁.

Singkat cerita, kereta sudah sampai di Stasiun Tanah Abang, tentu saja aku dan keluarga turun dan mendatangi bus yang tujuannya searah dengan pemberhentian yang keluargaku inginkan, halte Masjid Ar-Rayyan. Jadi ntar berhenti di pemberhentian Masjid Ar-Rayyan, kemudian jalan sampai ke Perpustakaan Nasional, lalu menyebrangi jalan karena Monas berada tepat di seberang jalan Perpustakaan Nasional, capek? Iya.

Jika kalian mau ke Monas, aku sarankan untuk mendaftar secara online, biar kalian kagak usah susah-susah lagi pas nyampe di Monasnya tinggal membeli tiket saja. Sebelum masuk kedalam Monas, keluargaku menyempatkan untuk sarapan di taman yang ada di Monas.

Banyak juga yah yang jalan-jalan di Monas, memang hari itu anak sekolah lagi pada libur, jadi mereka bisa jalan-jalan bareng keluarga. Aku juga sempat berfoto-foto di luar Monas, walaupun ngeluh, sih saat mau difoto karena panasnya sudah kayak air mendidih. Ini salah satu fotonya, gaes.

Please don't laugh.

Yeah, waktunya masuk ke dalam Monas, di lantai 1 terdapat museum, isi museumnya gak banyak-banyak amat kok. Saat di lantai 1, aku banyak difoto oleh ayah sebagai kenang-kenangan katanya, salah satunya adalah fotoku dengan miniatur pesawat, N-250 Gatotkoco.
.
Foto di Museum Monas. Kayak lagi nunggu pesawat beneran😆. Ini
Pesawat N-250 Gatotkoco, rancangan pak Habibie B.J

Tentu saja tidak hanya lantai 1 saja yang kami datangi, kami juga naik sampai ke lantai 3, men. Sebenarnya bisa sampai ke yang paling atasnya gaes, yaitu dimana api emas yang terdapat di bagian atas Monas, hanya saja kami tidak tahu cara naik ke atasnya. Sekedar info, kalian perlu kesabaran dan stamina yang kuat yah jika ingin naik sampai ke lantai 3, kenapa? Soalnya penuh, liftnya hanya 1 lagi, mana cukup untuk orang yang gak sabaran untuk naik ke lantai 3, jadi mesti antre deh😑.

Konon, di lantai 3 ada teropong, yang bisa melihat seluruh Jakarta, faktanya aku hanya melihat mobil yang berjalan di daratan😅. Tetapi di atasnya itu memang indah, gaes, aku bisa melihat Perpustakaan Nasional RI dari lantai 3 Monas, pokoknya seru deh.


Yaaaaahhhh, ini sudah waktunya untuk turun, jika kalian bertanya, " Kok cepat sekali?" Aku akan menjawab seperti ini, " Eh? Emang cepet kok. Kegiatan di Monasnya kan bentar doang." Ya benar, kegiatan di Monas hanya sedikit, gimana enggak sebentar, hanya lantai 1 dan lantai 3 yang isinya spesial, tetapi tidak masalah kok, karena sehabis dari Monumen Nasional alias Monas, aku dan keluargaku akan melanjutkan perjalanan, yakni menuju Mission 2, jadi jangan kemana-mana, tetap di sini ( emang-nya ini channel tipi?).

Mission 2: Museum Nasional Indonesia or Museum Gajah.

Jarak dari Monumen Nasional sampai ke Museum Gajah gak jauh kok teman-teman. Supaya lebih easy, kalian aku sarankan untuk membeli tiketnya secara online, jadi pada saat di Museumnya nanti cukup scan QR-code aja, mau tahu caranya? Cari sendiri di Google ya.

Hmmmmm....?

Okay, jadi kalau kalian tidak mau membeli tiketnya secara online, kalian bisa membeli tiketnya langsung di tempat, lumayan tiketnya bisa buat dipamerin ke orang. Selesai kalian membeli tiket, kalian masuk, di dalamnya terdapat banyak patung-patung peninggalan Buddha dan Hindu, aku enggak inget nama-nama patung itu, tetapi patung-patung peninggalan Buddha dan Hindu ini umurnya sangat tua lho, kawan-kawan. Untuk mengetahui nama-nama arca atau patung-patung peninggalan Buddha dan Hindu, kalian tinggal membaca keterangan pada setiap patung, kecuali bagi kalian yang memang malas membaca.
Bisa kalian lihat bahwa banyak sekali patung-patung arca di belakang background foto ini.

Tentu saja, tidak hanya patung-patung peninggalan Buddha dan Hindu, tetapi banyak juga peninggalan benda-benda dari suku-suku Indonesia lainnya, misalnya: Bugis, Toraja, Padang, Banjar, Nias, dlsb. Museum Gajah ini memang sangat KEREN, recommended banget bagi yang ingin berkunjung ke Museum.

Kalau kalian lihat-lihat, peta tersebut menunjukkan negara apa?

Museum Gajah memiliki 4 lantai, pada lantai 1, Museum Gajah menampilkan arca-arca peninggalan kerajaan Majapahit, kerajaan Buddha, dan kerajaan Hindu. Pada lantai 2, terdapat peninggalan yang berhubungan dengan sains dan teknologi, kemudian di lantai 3, terdapat peninggalan-peninggalan yang berhubungan dengan sosial dan kebudayaan, lantai 4 aku gak tahu.

Karena aku keturunan Bugis, kalau di Museum ini menampilkan benda-benda atau peninggalan yang berhubungan dengan suku bugis, aku bakalan lari-lari seperti sedang dikejar harimau sambil menyahut " Oi, ini ada peninggalan Bugis!" Karena saking bangganya menjadi orang bugis. Oh yeah, aku dengar-dengar orang Bugis itu suka berlayar, gaes, mereka pernah berlayar sampai ke Kanada, salut deh sama mereka.

Jangan takut untuk menghampiri makam kuno yang berhasil ditemukan. Ya, jangan takut. Karena nyawa si tengkorak udah melayang ke langit tujuh sebelum kalian lahir, jadi apa pula yang perlu ditakutkan?

Santai dulu ya, Skeleton?

Ya, aku sedari tadi menunggu untuk melihat makam kuno yang satu ini, kenapa? Karena aku belum pernah melihat kerangka manusia secara nyata. Pasti umur makam kuno ini sudah sangat tua, jadi kemungkinan ini tulang manusia, PURBA. 

Tidak hanya makam kuno, perahu zaman dulu pun ada juga di sini, aku heran, kenapa ada orang bisa membangun Museum sebagus ini, ya? Salah satu perahunya adalah yang seperti kalian lihat.

Mari kita membaca keterangannya, gaes.

Aku lihat manusia purba ini kepalanya agak aneh ya, teman-teman, bisa kalian perhatikan bahwa wajahnya agak lebih maju daripada manusia modern, tetapi tidak usah diurus, karena emang bukan urusan kita, kita di Museum Gajah hanya untuk melihat-lihat, bukan protes.

Ini miniatur, so jangan khawatir.

Ya, karena aku, mama, dan yang lain kelelahan, mama meminta untuk berangkat menuju Perpustakaan RI, tetapi Aisya meminta untuk tetap mengeksplor Museum Gajah dulu sampai selesai, tetapi karena Aisya kalah telak dalam pemilihan suara ke Perpustakaan RI atau mengeksplor Museum Gajah, sehingga Aisya mengangguk dengan terpaksa, dan melangkahkan kaki keluar dari Museum Nasional Indonesia atau Museum Gajah.

Mission 3: Library of Republic Indonesian.

Banyak sekali kendala yang membuat perjalanan dari Museum Gajah ke Perpusnas menjadi lambat, jadi begini kejadiannya, gaes. Ayah memutuskan untuk naik bus-way ketimbang jalan kaki ke Perpusnas, karena semuanya udah pada capek. Ayah malah keliru naik bus yaitu bus 2A seharusnya bus 1A, sebenarnya bus 2A ini juga melewati halte Balai Kota, hanya saja tidak berhenti di situ, jadi perjalanan terlambat karena ini. Dan akhirnya, kami harus berhenti di stasiun Senen, dari stasiun Senen, kami naik bus yang menuju halte Harmoni. Nah, sesampainya di halte Harmoni, aku meminta ayah untuk membelikan es teh botol di tempat mesin minuman otomatis, ayah memasukkan uang 5rb, tiba-tiba mama berteriak, " yah! Itu busnya!" Sahut mama panik, ayah segera mengambil minuman yang aku pesan secara terburu-buru, tetapi rupanya bus yang kami naiki ini salah, karena ayah tidak sempat melihat bagian depan bus tersebut karena saat bus tiba ayah lagi sedang membeli minuman yang aku pesan. Dan bus tersebut ternyata tujuannya adalah ke Blok M, jadi kami harus turun di halte BI ( Bank Indonesia).

.......

Begitulah ceritanya. Okay, dari halte BI, ayah memutuskan untuk shalat zhuhur terlebih dahulu di masjid kantor lama ayah (Gedung Bank Syariah Mandiri), tempat ayah bekerja dulu sebelum aku lahir, tempatnya dingin, nyaman, damai, dan tenteram. Nah dari masjid kantor lama ayah, kami berjalan kaki sampai ke Perpusnas, bayangkan capeknya, gaes.

Ini foto aku lagi di masjid kantor ayah pas aku belum lahir, gaes.

Tetapi capeknya itu segera terbayar saat sampai di Perpusnas, karena bisa meminjam banyak buku yang aku sukai, yah karena peminjaman buku hanya bisa sampai jam 15:00, jadi i've to be fast pada saat  mencari buku, if not, i can't borrow the book that I like. Lumayan lah bisa dapet 3 buku, Fantasteen Scary Hot Seat, Si Anak Spesial, dan Si Anak Pemberani, ini aku dapet bukunya asal nyamber aja, sih, karena waktu yang mepet, aku menemukan 3 buku ini di sebuah meja yang sengaja disediakan untuk menaruh buku-buku yang sudah selesai dibaca, sehingga buku-buku yang terdapat di situ sangat banyak. Sebenarnya aku bisa minjam 4 buku, tetapi karena kelelahan, aku menetapkan pada diriku untuk meminjam 3 buku saja.

Tetapi tentu saja bukan hanya aku yang meminjam buku, ayah, mama, Nukman, dan Aisya pun meminjam buku untuk bacaan di rumah, Aisya dapet 3 atau 4 buku, mama dapet 2, salah satunya adalah buku Biografi Buya Hamka, Nukman mendapatkan 3 buku, dan ayah mendapatkan 1 buku, namanya buku, Al-Hikam, dari kemarin ayah pengen minjam buku Al-Hikam, sebenarnya ayah udah minjem dari minggu lalu, tetapi karena belum selesai, ayah pinjam saja lagi.

Yeah, tentu saja sudah cukup untuk bacaan di rumah, tanggal 13 baru akan dikembalikan lagi, aku bisa puas membaca buku di rumah, lalu kalau mau di kembalikan, nanti bisa pinjam lagi, di bandingkan beli buku, sudah keluar banyak uang tuh dari dompet dan tabungan kalian, hihihihi.

Okey, cukup sekian hari ini, maap kalau banyak candaannya, karena aku pengen menceritakan jalan-jalan di Jakarta ini secara santai, jadi maafkan segala kekurangan blog ini oke? Seperti biasa, jumpa lagi di blog selanjutnya dan bye-bye.

Posting Komentar untuk "Kunjungan ke Monas dan Museum Gajah."